Category Kesehatan Mental

Termasuk Narkotika, Hati-hati terhadap Jenis-jenis Halusinogen Ini!

Pernah mendengar istilah halusinogen? Mungkin istilah ini belum terlalu familiar di telinga Anda. Namun, pernahkah Anda mendengar tentang magic mushroom yang banyak dijual bebas di beberapa daerah tertentu? Bukan sekadar jamur biasa, ketika Anda menghirup atau mengonsumsi jenis jamur ini, Anda akan memiliki halusinasi terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak ada, mulai dari melihat sesuatu yang sebenarnya tiada, mendengar suara-suara asing, ataupun mencium bau yang sebenarnya tidak pernah ada.

Magic mushroom hanyalah salah satu jenis halusinogen klasik yang berasal dari alam. Di luar itu, masih banyak jenis halusinogen lain yang bisa membawa Anda ke berbagai ilusi dan sensasi yang sebenarnya tidak ada. Namun baiknya, Anda berhati-hati terhadap berbagai jenis makanan ataupun obat yang tergolong halusinogen. Pasalnya, halusinogen sudah dikategorikan sebagai salah satu zat narkotika!

Halusinogen sendiri memiliki banyak jenis. Berikut ini adalah beberapa jenis halusinogen yang bisa membuat Anda berada dalam sensasi halusinasi yang mengasyikkan, namun sekaligus menjerumuskan. Jadi, berhati-hatilah!

  1. D-Lysergic Acid Diethylamide (LTD)

Magic mushroom sendiri merupakan jenis halusiongen yang tergolong sebagai LTD. Zat LTD umum diperoleh dari jamur yang hidup di biji-bijian tertentu. Jenis halusinogen yang satu ini banyak dipilih penikmatnya karena tidak hanya mampu menghadirkan ilusi yang menyenangkan, namun sekaligus bisa mengubah suasana hati. LTD disebut-sebut pula sebagai halusinogen yang pengaruhnya bagi pengonsumsinya paling kuat di dunia. Saat ini, LTD umum diperjualbelikan dengan bentuk kapsul yang berisi bubuk putih tanpa warna dan bau.

  • Delta-9 Tetrahydrocannabinol (THC)

Zat THC banyak terkandung dalam ganja. Zat ini tergolon halusinogen karena bisa memberikan efek halusinasi yang mengarah ke paranoia. Gejala umum yang akan dialami oleh pengguna THC adalah munculnya distorsi waktu terkait halusinasi yang dialaminya. Halusinasi yang ditimbulkan THC dikarenakan zat ini memengaruhi reseptor cannabinoid. Reseptor ini merupakan daerah otak yang mengatur ingatan, kesenangan, nafsu makan, hingga masalah koordinasi tubuh. Adanya THC dalam ganja membuat narkotika jenis ini banyak dipilih sebagai sarana rekreasi.

  • Mescaline

Zat halusinogen yang satu ini memiliki efek seperti minuman berkadar alkohol tinggi yang akan membuat penggunanya merasa mabuk dan melihat ilusi yang sebenarnya tidak ada. Mescaline sendiri tergolong sebagai halusinogen klasik yang terdapat pada tumbuhan alami, seperti kaktus peyote. Namun saat ini, sudah banyak sintetis kimia yang dibuat menyerupai efek mescaline dan digolongkan sebagai salah satu narkotika.

  • Dimethyltryptamine (DMT)

Panggilan keren dari jenis halusinogen ini adalah Dimitri. Jenis zat halusinasi yang satu ini umumnya digunakan dengan cara diseduh atau diisap menggunakan bong. Setelah mengonsumsinya, Anda akan merasakan efek mabuk yang membuat berbagai halusinasi bermunculan. Zat DMT sendiri banyak ditemukan dalam berbagai jenis tanaman liar di sekitaran Amazon.

  • Psilocybin

Efek dari psilocybin sangat mirip dengan efek yang dihasilkan oleh jenis halusinogen LSD. Di mana pengonsumsinya akan merasakan sensasi perubahan suasana hati sampai melihat hal-hal yang ternyata halusinasi. Psilocybin merupakan jenis halusionogen alami yang banyak ditemukan pada tanaman jamur. Pengonsumsiannya lebih banyak dipilih dengan cara diseduh seperti teh, kemudian diseruput pelan-pelan.

  • Phencylidine (PCP)

Awalnya zat halusinasi ini dibuat sekitar tahun 1950 sebagai salah satu obat anestesi, namun sejak tahun 1965 sudah tidak digunakan kepada manusia karena memiliki efek samping yang begitu buruk. Penggunaan PCP bisa menyebabkan masalah mental yang serius. Namun, produksi dan penggunaan PCP secara illegal tetap masih ada sehingga digolongkan sebagai obat terlarang.  

***

Walaupun terlihat mengasyikkan bisa memperoleh halusinasi menyenangkan setelah mengonsumsinya, penggunaan halusinogen bisa membuat Anda kecanduan dan mengancam jiwa. Karena itu, lebih baik tidak coba-coba dan berupaya menjauhi berbagai jenis zat halusinasi ini, ya.

Read More

Mengenal Antidepresan SSRI dan SNRI, Apa Perbedaannya?

SSRI adalah kelompok antidepresan dalam mengatasi depresi dan gangguan mental lain

Antidepresan adalah obat-obatan yang dapat membantu meringankan gejala depresi, gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan, gangguan afektif musiman, distimia, depresi kronis ringan, dan kondisi lain yang serupa. Tujuan dari obat tersebut adalah untuk mengoreksi ketidakseimbangan kimia dari neurotransmitter di otak yang dipercaya bertanggung jawab terhadap perubahan suasana hati dan perilaku. Antidepresan pertama kali dikembangkan pada tahun 1950, dengan penggunaannya semakin terus bertambah dan umum dijumpai dalam 20 tahun terakhir. Antidepresan dibagi menjadi 5 jenis, yaitu antidepresan SSRI, SNRI, TCA, MAOI, dan NASSA. Artikel ini akan membahas apa yang membedakan antara antidepresan SSRI dan SNRI. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), di Amerika Serikat, persentase orang-orang usia 12 tahun ke atas yang menggunakan antidepresan meningkat dari 7,7 persen dari tahun 1999 hingga 2002 ke 12,7 persen pada tahun 2011-2014. Jumlah perempuan yang menggunakan antidepresan dua kali lebih banyak dari pria. Antidepresan yang paling sering diresepkan adalah antidepresan SSRI dan SNRI. 

  • Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI)

Ini merupakan salah satu antidepresan yang paling sering diresepkan. Antidepresan ini efektif dalam mengobati depresi. SSRi juga memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan antidepresan lainnya. SSRI menghambat “reuptake” atau penyerapan serotonin di otak. Hal ini membuat sel-sel otak lebih mudah dalam menerima dan mengirim pesan, menyebabkan suasana hati yang lebih baik dan stabil. Antidepresan ini dikenal “selektif” karena lebih berfokus dalam memengaruhi serotonin, dan bukan neurotransmitter lainnya. 

Saat otak mengirim serotonin, beberapa dari serotonin tersebut digunakan untuk berkomunikasi dengan sel-sel lain, dan beberapa lainnya akan kembali ke sel yang melepaskannya. SSRI akan mengurangi jumlah serotonin yang kembali ke sel yang melepaskannya, membuat jumlah yang tersedia lebih banyak di otak untuk berkomunikasi dengan sel-sel lain. Para ahli belum mengetahui dengan pasti peran serotonin terhadap depresi. Namun, banyak dari mereka percaya bahwa kadar serotonin yang rendah merupakan salah satu faktor yang berkontribusi. Beberapa jenis antidepresan SSRI adalah citalopram, paroxetine, escitalopram, fluoxetine, sertraline, dan fluvoxamine. 

SSRI dapat menyebabkan efek samping seperti sakit kepala, mual, gangguan tidur, pusing, diare, badan terasa lemah, kecemasan, sakit perut, mulut kering, dan gangguan seksual (birahi rendah, disfungsi ereksi, atau masalah ejakulasi). Di antara antidepresan lain, SSRI berisiko lebih besar untuk menyebabkan gangguan seksual, meningkatnya nafsu makan, dan potensi pertambahan berat badan. 

  • Serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI)

Antidepresan ini digunakan untuk merawat depresi, gangguan suasana hati, gangguan perhatian defisit hiperaktif (ADHD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan kecemasan, gejala menopause, fibromyalgia, dan penyakit neuropathic kronis. SNRI akan meningkatkan kadar serotonin dan norepinephrine, dua neurotransmitter di otak yang memerankan peran penting dalam menstabilkan suasana hati. Beberapa contoh antidepresan SNRI adalah desvenlafaxine, levomilnacipran, duloxetine, milnacipran, dan venlafaxine. Selain untuk merawat kondisi-kondisi di atas, dalam beberapa kasus SNRI dapat digunakan untuk merawat kerusakan saraf yang disebabkan oleh diabetes. 

SNRI dapat menyebabkan efek samping seperti pusing, mual, insomnia, mengantuk, mulut kering, hilangnya nafsu makan, konstipasi, gangguan seksual seperti disfungsi ereksi dan masalah ejakulasi, dan mudah berkeringat. 

Antidepresan SSRI dan SNRI masing-masing memiliki manfaat dan efek sampingnya sendiri. Saat memilih dan mencoba antidepresan, sangat penting bagi Anda untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan penyedia layanan kesehatan untuk memastikan efektivitas dan keamanan obat antidepresan.

Read More