Category Penyakit

Mengenal Jenis-jenis Penyakit Ensefalopati

Ensefalopati adalah istilah yang digunakan untuk kerusakan atau malfungsi otak.

Ensefalopati merupakan istilah umum untuk mendeskripsikan sebuah penyakit yang mempengaruhi fungsi atau struktur otak. Ada banyak jenis ensefalopati dan penyakit otak, mulai dari penyakit sementara hingga permanen. Beberapa jenis ensefalopati muncul sejak lahir dan tidak akan berubah seiring berjalannya waktu. Sementara itu, jenis lain dapat muncul kapanpun dan mungkin berubah semakin memburuk seiring Anda bertambah usia. Artikel ini akan membahas berbagai jenis ensefalopati yang perlu Anda ketahui. 

Jenis dan penyebab ensefalopati

Berikut ini adalah beberapa jenis ensefalopati yang umum dijumpai, serta hal-hal apa saja yang menjadi penyebabnya. 

  • Ensefalopati traumatik kronis

Ensefalopati jenis ini terjadi ketika ada beberapa trauma atau cedera pada otak. Cedera atau trauma tersebut dapat menyebabkan kerusakan saraf di otak. Kondisi ini sering terjadi pada atlet, seperti petinju dan pemain sepak bola. Para tentara yang pernah cedera karena ledakan tertentu juga dapat menderita ensefalopati jenis ini. 

  • Ensefalopati glisin

Ensefalopati jenis ini merupakan ensefalopati yang disebabkan oleh faktor kondisi genetik, atau keturunan, yang mana terdapat kadar glisin (asam amino) dalam jumlah tinggi di otak. Gejala ensefalopati glisin biasanya akan muncul setelah bayi lahir atau pasca persalinan. 

  • Ensefalopati hati

Ini disebabkan oleh penyakit hati. Saat hati Anda tidak dapat berfungsi dengan baik, racun yang biasanya dibuang dari tubuh malah menumpuk di darah untuk akhirnya sampai ke otak. 

  • Ensefalopati Hashimoto

Ini merupakan ensefalopati jenis langka yang dihubungkan dengan kondisi autoimun bernama penyakit Hashimoto. Dalam penyakit ini, sistem kekebalan tubuh Anda salah menyerang kelenjar thyroid. Kelenjar thyroid bertanggung jawab dalam produksi hormon pengatur tubuh. Para ilmuwan hingga kini masih belum tahu bagaimana kedua kondisi tersebut saling berhubungan. 

  • Ensefalopati hipertensif

Kondisi ini merupakan hasil dari tekanan darah tinggi yang tidak dirawat atau diobati dalam waktu yang lama. Hal ini dapat menyebabkan otak Anda membengkak, dan menyebabkan kerusakan otak atau ensefalopati hipertensif. 

  • Ensefalopati metabolik racun

Ensefalopati jenis ini merupakan hasil dari infeksi, racun, dan kegagalan organ tubuh. Saat elektrolit, hormon, dan zat kimia tubuh lain tidak seimbang seperti biasanya, hal tersebut akan mempengaruhi fungsi otak. Selain itu, akan ada kemungkinan keberadaan infeksi di tubuh atau zat kimia beracun. Ensefalopati dapat sembuh ketika ketidakseimbangan zat kimia yang menjadi penyebabnya dikembalikan ke kondisi semula atau racun dan infeksi dihilangkan. 

  • Ensefalopati hypoxic ischemic

Kondisi ini merupakan sebuah kerusakan otak yang disebabkan ketika otak tidak mendapatkan pasokan oksigen dalam jumlah yang cukup. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau disfungsi. Ensefalopati jenis ini dapat disebabkan karena kekurangan oksigen pada otak, misalnya saat janin yang masih berkembang di rahim terpapar oleh alkohol akibat gaya hidup tidak sehat sang ibu. 

  • Ensefalopati infeksi

Dikenal juga dengan nama penyakit prion. Prion merupakan protein yang dapat ditemukan secara alami di tubuh. Namun, protein tersebut dapat bermutasi dan menyebabkan penyakit yang secara perlahan merusak otak (penyakit neurodegenerative). 

  • Ensefalopati Wernicke

Juga dikenal dengan nama penyakit Wernicke, kondisi ini disebabkan karena defisiensi vitamin B1 akibat konsumsi alkohol dalam jangka panjang, asupan nutrisi yang buruk, dan penyerapan makanan yang tidak baik. 

Pemulihan atau penyembuhan dari kondisi ensefalopati tergantung pada seberapa parah kondisi yang dimiliki serta penyebab utama penyakit tersebut. Kebanyakan kasus ensefalopati dapat disembuhkan apabila penyebab dapat diidentifikasi dengan segera dan perawatan dimulai secepatnya. Namun, semua kondisi tersebut dapat berisiko fatal apabila tidak dirawat dan diobati.

Read More

Komplikasi Corona: Apa Saja Yang Bisa Terjadi?

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke setiap negara dan jumlah kasus semakin meningkat setiap hari. Jumlah kasus di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 1,3 juta. Selain itu, jumlah kematian terus terjadi dan telah mencapai lebih dari 74.000 orang. Hal tersebut terjadi karena dipicu oleh komplikasi Corona.

Manusia bisa saja mengalami komplikasi yang disebabkan oleh virus Corona dimana dapat memicu gangguan pernafasan. Tidak hanya menimbulkan gangguan pernafasan, orang-orang yang terkena infeksi virus Corona juga kemungkinan akan mengalami penyakit jantung dan kerusakan hati dan ginjal.

Tidak semua orang yang terkena infeksi virus Corona atau positif Corona akan mengalami gejala atau komplikasi yang parah, namun sebagian orang berpotensi memiliki risiko tinggi komplikasi Corona.

Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak merasakan gejala berat akibat Covid-19. Untuk mengatasi masalah atau gejala kecil seperti batuk-batuk, mereka dapat beristirahat di rumah. Namun, jika manusia mengalami gejala yang parah, mereka perlu dirawat di rumah sakit.

Orang-orang yang rentan terhadap virus Corona adalah lansia dan orang-orang yang memiliki penyakit tertentu seperti penyakit jantung atau diabetes. Infeksi virus Corona yang terjadi pada orang-orang seperti ini, berkembang menjadi kondisi yang sangat parah. Mereka juga kemungkinan akan mengalami komplikasi Corona sebagai berikut:

  • Pneumonia

Pneumonia adalah salah satu komplikasi Corona yang terjadi dimana kantung udara di paru-paru meradang sehingga membuat seseorang mengalami kesulitan untuk bernafas.

  • Gagal nafas akut

Jika manusia mengalami gagal nafas, tubuh tidak dapat menerima oksigen yang cukup dan tidak dapat membuang karbon dioksida. Gagal nafas akut adalah salah satu penyebab kematian sekitar 8% pasien yang positif Covid-19.

  • Acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Sebuah penelitian di Tiongkok mengungkap bahwa sekitar 15 hingga 33% pasien positif Covid-19 mengalami ARDS dimana hal tersebut membuat paru-paru rusak parah karena adanya cairan di dalam paru-paru. Hal ini membuat oksigen susah masuk sehingga pasien mengalami kesulitan untuk bernafas, dan mereka perlu menggunakan ventilator atau alat bantu nafas.

  • Kerusakan hati

Komplikasi virus Corona memang memicu kematian yang disebabkan oleh gangguan pernafasan. Hal tersebut juga dapat memicu komplikasi pada bagian hati sehingga dapat membuat hati rusak.

  • Gangguan jantung

Pasien yang mengalami gangguan jantung, mengalami risiko berupa aritmia (kelainan irama jantung) dan miokarditis (peradangan pada otot jantung).

  • Gagal ginjal

Jika pasien mengalami gangguan ginjal, maka dokter akan melakukan proses cuci darah hingga kondisinya membaik. Terkadang, kondisi ginjal pasien tidak dapat disembuhkan sehingga mereka mengalami gagal ginjal dan akan dirawat dalam jangka panjang.

  • Infeksi sekunder

Infeksi sekunder adalah infeksi kedua yang terjadi setelah infeksi awal, dan infeksi tersebut tidak ada hubungan dengan penyakit yang awalnya diderita. Contohnya, pasien terkena Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Setelah itu, pasien mengalami infeksi lain yang disebabkan oleh bakteri streptococcus.

  • Disseminated intravascular coagulation (DIC).

Penyakit ini dapat memicu proses pembekuan darah terganggu, dan membuat tubuh membentuk gumpalan-gumpalan darah yang tidak sesuai dengan tempatnya. Hal tersebut menyebabkan pendarahan pada organ tubuh.

  • Syok septik

Syok septik terjadi dimana respons tubuh terhadap infeksi salah sasaran. Hal tersebut justru membuat organ-organ yang sehat hancur, dan tidak menghancurkan virus penyebab penyakit. Hal tersebut juga memicu penurunan darah secara drastis sehingga dapat mengakibatkan kematian.

  • Rhabdomyolisis

Rhabdomyolisis menyebabkan jaringan otot mati. Hal ini dapat mempengaruhi kinerja myoglobin (protein dalam sel), dan jika myoglobin tidak dapat bekerja dengan baik, maka akan memicu kerusakan fungsi pada bagian tubuh dan dapat mengakibatkan kematian.

Itulah komplikasi Corona yang perlu Anda waspadai. Oleh karena itu, Anda sebaiknya tetap berada di rumah untuk mencegah penularan Covid-19. Untuk menjaga kesehatan, Anda sebaiknya konsumsi makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, serta minum obat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Read More

Langkah-Langkah Antisipatif Lawan Jerawat di Rahang

Salah satu posisi di wajah yang favorit ditumbuhi jerawat adalah rahang. Jerawat di rahang termasuk “bandel”. Dalam kata lain, jerawat-jerawat itu kerap datang dan kembali lagi jika faktor-faktor untuk tumbuh cukup ideal.

Faktor-faktor tumbuhnya jerawat di rahang tak cuma pori-pori yang tersumbat lantaran wajah kita kotor atau kelebihan minyak. Jerawat di rahang amat identik dengan pengaruh internal tubuh kita. Faktor-faktor seperti stres, pola makan, dan hormon merupakan penyebab utama terjadinya jerawat di rahang dan dagu. Atas dasar itu, perempuan menjadi golongan yang paling rentan terserang jerawat di wajah bagian bawah ini.

Untuk itu, penting kiranya mengetahui langkah-langkah antisipatif agar dapat terhindar dari kondisi kulit yang membuat kita kurang nyaman lantaran mengganggu penampilan ini. Apa saja? Berikut di antaranya:

  1. Lakukan Eksfoliasi saat Memasuki Paruh Periode Menstruasi

Cara terbaik untuk mengatasi jerawat di rahang adalah mencegahnya berkembang sejak awal. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, hormon menjadi faktor utama tumbuhnya jerat di bagian ini. Menstruasi adalah salah satu masa di mana terjadi ketidakseimbangan hormon.

Oleh karenanya, di setengah periode awal menstruasi, membersihkan area rahang dengan teknik eksfoliasi dapat membantu menjaga pori-pori tetap bersih.

  • Mengurangi Asupan Produk Olahan Susu

Sama seperti hormon, pola konsumsi kita dapat mempengaruhi berkembangnya jerawat di rahang. Salah satu bahan makanan yang dapat Anda hindari agar tak memiliki jerawat di rahang adalah produk olahan susu. Kebanyakan sapi penghasil susu menerima growth hormone atau suplemen hormon untuk meningkatkan produksinya. Alhasil, jika kamu mengonsumsi produk olahan susu dari sapi-sapi tersebut, hormon kamu pun akan terpengaruh dan berpotensi terganggu.

Untuk mengetahui apakah konsumsi produk olahan susu menjadi penyebab timbulnya jerawat pada area dagu atau rahang, kamu bisa menyetop konsumsi produk olahan susu selama 2-3 minggu untuk melihat adanya perubahan atau tidak.

  • Hindari Perpindahan Bakteri ke Area Dagu atau Rahang

Cara termudah untuk menghindari perpindahan bakteri ke area rahang adalag dengan tidak menyentuh area dagu atau rahang dengan tangan, apalagi jika tangan Anda kotor. Berhati-hati juga saat mengenakan helm atau pakaian dengan kerah tinggi yang menyentuh area tersebut.

Lebih baik, gunakan masker saat berkendara dengan motor agar wajah Anda tidak terpapar debu atau bersentuhan secara langsung dengan helm. Terakhir, jangan lupa untuk membersihkan ponsel atau headset yang kerap menempel pada wajah secara berkala

  • Tambahkan Pembersih Asam Salisilat dalam Rutinitas Skincare

Untuk menghilangkan minyak berlebih dan sel-sel kulit mati, gunakan pembersih dengan kandungan asam salisilat. Sehingga pori-pori tetap bersih. Pembersih dengan formula tanpa pewangi juga direkomendasikan untuk kulit sensitif.

Selain itu, pengobatan topikal cukup efektif untuk mengeringkan jerawat yang membandel. Oleskan Acne Spot yang memiliki kandungan Witch Hazel dan asam salisilat dua persen yang bekerja untuk mengempiskan jerawat, kemerahan, dan pembengkakan. Oleskan di atas jerawat sebelum tidur.

  • Bisa Mencoba Benzoyl Peroxide

Jika penggunaan asam salisilat tak mampu menangani jerawat di rahan Anda, mulailah untuk mencoba menggunakan benzoyl peroxide yang juga efektif mengurangi ukuran dan kemerahan pada jerawat. Ia menjadi salah satu obat jerawat yang direkomendasikan untuk merawat kulit tanpa resep dokter.

  • Obati Area yang Bermasalah Saja

Cara atau tindakan ini merupakan salah satu poin penting, tetapi kerap dilewatkan. Saat mengatasi jerawat di area dagu atau rahang, maupun area spesifik lainnya, pastikan agar Anda hanya menggunakan obat jerawat pada area yang bermasalah.

Jika Anda menggunakan obat jerawat yang bersifat mengeringkan pada seluruh wajah, bisa-bisa area wajah lain yang sebelumnya tidak bermasalah akan ikut berjerawat. Area yang tadinya aman, akhirnya malah kering karena obat jerawat, sehingga tampak kemerahan, perih, mengelupas, bahkan memproduksi minyak berlebih, dan bisa menjadi ‘ladang’ jerawat baru.

  • Berkonsultasi dengan Dokter Kulit

Ini mungkin langkah terakhir yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi jerawat di rahang ketika semua cara yang disebut di atas tak juga ampuh. Kecocokan perawatan kulit setiap orang tidaklah sama. Sehingga Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar mendapatkan produk yang tepat untuk digunakan. Nantinya setelah mengetahui akar masalahnya, dokter kulit akan meresepkan krim dan antibiotik topikal untuk mengobati jerawat yang ada.

***

Itulah beberapa langkah untuk mencegah terjadinya jerawat di rahang. Semua langkah tersebut memang terkesan sama dengan pencegahan jerawat di daerah lain. Namun, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan saat berurusan dengan jerawat yang disebabkan oleh hormon. Jika kondisi jerawat di rahang berlangsung berkepanjangan, cobalah untuk berkonsultasi juga dengan dermatologis atau ginekologis seputar keseimbangan hormon dan pengaruhnya terhadap kulit Anda.

Read More

Daftar Macam-macam Gangguan Kejiwaan

Gangguan kejiwaan merupakan masalah kesehatan yang memengaruhi bagaimana seseorang merasa, berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain secara signifikan. Penyebabnya bisa karena faktor genetik atau bawaan lahir, ada riwayat keluarga yang memiliki gangguan jiwa, stres, pernah mengalami pelecehan atau trauma psikologis, cedera otak berat, menggunakan obat-obatan terlarang, atau memiliki kondisi medis serius. Ibu hamil yang terpapar virus atau bahan kimia beracun juga diduga berperan dalam memicu gangguan jiwa pada janin yang sedang dikandungnya.

Berbagai Gangguan Kejiwaan yang Sering Kita Temui

Riset Kesehatan Dasar di tahun 2013 menemukan bahwa terdapat sekitar 14,4 juta penderita gangguan jiwa di Indonesia. Dari data daftar tersebut, ada macam-macam gangguan jiwa yang umumnya terjadi, yaitu:

Gangguan kecemasan

Contohnya gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, fobia, dan panik. Orang yang menderita gangguan kecemasan biasanya takut pada benda atau situasi tertentu. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya keringat yang keluar, detak jantung yang cepat, merasa pusing, susah berkonsentrasi atau tidur, dan merasa cemas serta khawatir.

Gangguan kepribadian

Seseorang dengan gangguan kepribadian memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang lain. Jenis gangguan kepribadian dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

  • Tipe eksentrik atau aneh, seperti gangguan kepribadian paranoid, skizoid, skizotipal, dan antisosial.
  • Tipe dramatis atau emosional, seperti gangguan kepribadian narsistik, histrionik, dan ambang (borderline).
  • Tipe cemas dan takut, seperti gangguan kepribadian obsesif kompulsif, menghindar (avoidant), dan dependen.

Gangguan psikotik

Gangguan psikotik merupakan gangguan jiwa parah yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya penyakit skizofrenia. Ciri-ciri dari gangguan psikotik adalah mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang tidak ada (halusinasi) serta memercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi (delusi).

Gangguan suasana hati

Apakah kamu suka merasa sedih yang teramat sangat? Atau justru mengalami perasaan yang bergantian antara sangat sedih dan sangat bahagia? Hal itu termasuk dalam kelainan suasana hati atau kelainan afektif. Jenis gangguan yang paling umum dari kelainan ini antara lain adalah depresi, gangguan bipolar, dan gangguan siklotimik.

Gangguan makan

Gangguan makan adalah penyakit serius dan sering kali fatal di mana terdapat gangguan parah pada perilaku makan seseorang. Contoh dari gangguan makan adalah anoreksia nervosa (menganggap diri sendiri kelebihan berat badan padahal tidak), bulimia nervosa (makan dalam jumlah besar kemudian dikeluarkan secara paksa misalnya dengan muntah), dan binge-eating atau makan berlebihan.

Gangguan pengendalian impuls dan kecanduan

Orang dengan gangguan pengendalian impuls tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, misalnya berjudi kompulsif, kleptomania (mencuri), dan pyromania (menyulut kebakaran). Sedangkan kecanduan biasanya terhadap alkohol dan obat-obatan, namun bisa juga kecanduan pada aktivitas tertentu seperti seks atau belanja.

Gangguan obsesif kompulsif (OCD)

Gangguan kronis yang satu ini ditandai dengan adanya pikiran dan obsesi yang tidak terkendali akan sesuatu, sehingga mendorong seseorang melakukannya secara berulang-ulang. Contohnya, memiliki ketakutan yang tidak masuk akal terhadap kuman hingga terus-menerus mencuci tangan.

Gangguan stres pascatrauma (PTSD)

PTSD dapat berkembang setelah seseorang mengalami kejadian traumatis dan/atau mengerikan, seperti pelecehan seksual atau fisik, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, atau bencana alam. Pikiran atau kenangan yang tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang dan biasanya penderita PTSD cenderung mati rasa secara emosional.

Macam-macam gangguan kejiwaan bisa memburuk jika tidak ditangani. Penderita gangguan mental berpotensi menyakiti dirinya sendiri atau orang lain jika masalah kesehatannya ini tidak ditangani. Jikakamu atau seseorang yangkamu kenal kemungkinan menderita gangguan jiwa, segeralah mencari bantuan pada dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Mereka dapat memeriksa tanda-tanda gangguan jiwa dan membantu pengobatan jika diperlukan.

Read More

Calon Pengantin Dianjurkan Melakukan Vaksin Sebelum Menikah

Orang tentu sudah familier dengan persiapan pernikahan yang berupa kebutuhan resepsi: gedung, dekorasi, katering, gaun, dan sebagainya. Apakah Anda sudah mengetahui bahwa melakukan vaksin sebelum menikah juga idealnya menjadi bagian dari persiapan pernikahan?

Sebelum menikah, penting sekali untuk memperhatikan kondisi kesehatan para calon pengantin. Sebab setelah menikah, pasangan suami istri mungkin akan berhubungan intim secara rutin serta memiliki kemungkinan hamil dan punya anak. Hal tersebut juga yang membuat vaksin sebelum menikah sangat dianjurkan, agar pasangan tersebut beserta keturunannya dapat terhindar dari berbagai penyakit.

Sampai saat ini, vaksinasi masih menjadi cara efektif untuk mencegah penularan penyakit, Baik penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung, melalui kulit dan hubungan seksual misalnya, maupun penyakit yang ditularkan oleh ibu ke janin.

Lakukan vaksinasi ini sebelum menikah

Tentu saja tidak semua jenis vaksin harus Anda lakukan sebelum menikah. Berikut ini beberapa jenis vaksin yang disarankan untuk pasangan yang akan menikah dan berencana memiliki keturunan.

1. Vaksin HPV

Penularan virus HPV dapat terjadi melalui kontak langsung, melalui kulit dan hubungan intim. Keberadaan virus tersebut dapat memicu kanker, salah satunya kanker serviks. Vaksin HPV atau human papilloma virus ditujukan untuk mencegah kanker, khususnya kanker yang disebabkan oleh virus HPV.

Karena virus HPV memicu terjadinya kanker serviks, mungkin orang berpikir hanya perempuan yang perlu melakukan vaksinasi HPV. Sebetulnya hal tersebut kurang tepat.

Vaksin HPV menjadi salah satu jenis vaksin sebelum menikah yang perlu diberikan kepada laki-laki dan perempuan. Meskipun laki-laki tidak akan terkena kanker serviks, akan tetapi vaksin HPV tetap diperlukan untuk mencegah penyebaran virus HPV.

2. Vaksin DPT dan vaksin TT

Sesuai namanya, vaksin DPT ditujukan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Sedang vaksin TT, hanya ditujukan untuk mencegah penyakit tetanus.

Vaksin TT sangat dianjurkan dilakukan sebelum menikah, terutama oleh calon pengantin yang belum mendapatkan vaksin ini secara lengkap saat masih kecil. Kementerian Kesehatan menganjurkan jadwal pelaksanaan imunisasi TT, sebagai berikut:

– TT 1, dilakukan dua minggu sebelum menikah agar tubuh memiliki cukup waktu untuk membentuk antibodi.

– TT 2, dianjurkan satu bulan setelah TT1. Efektif memberikan perlindungan selama tiga tahun setelahnya.

– TT 3, dilakukan enam bulan setelah TT2 dan efektif memberi perlindungan lima tahun ke depan.

– TT 4, 12 bulan setelah TT 3 dianjurkan menjalani TT 4. Perlindungannya akan efektif selama 10 tahun berikutnya.

– TT 5, dengan efektifitas perlindungan berlaku selama 25 tahun ke depan, TT 5 sebaiknya dilakukan 12 bulan setelah TT 4.

3. Vaksin cacar air

Jika seseorang mengalami cacar air saat hamil, hal tersebut akan sangat membahayakan. Sementara vaksin cacar air tidak bisa diberikan kepada ibu hamil. Itu sebabnya, calon pengantin disarankan melakukan vaksin cacar air sebelum menikah.

4. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)

Jenis vaksin ini termasuk vaksin sebelum menikah yang sangat dianjurkan sebab vaksin ini dapat mencegah Anda terkena campak, gondong, serta rubella. Ketiga penyakit tersebut bila menyerang ibu hamil dapat memicu kecacatan pada janin.

5. Vaksin hepatitis B

Ketika seseorang mengidap hepatitis B dan tidak terdeteksi, maka ada risiko virus tersebut akan menular kepada pasangannya. Sebab virus hepatitis B dapat menular melalui darah, air liur, dan air mani yang telah terinfeksi. Selain itu, seorang ibu hamil yang mengidap hepatitis B dapat menularkan penyakit tersebut kepada bayi saat proses persalinan.

Oleh sebab itu vaksin hepatitis B termasuk vaksin sebelum menikah yang sangat direkomendasikan.

Read More

Waspadai Beberapa Faktor Risiko Hepatitis C

Dari banyak ragam virus hepatitis, hepatitis C menjadi salah satu yang paling berbahaya. Pasalnya, hepatitis C merupakan penyakit kronis yang menjangkiti seseorang secara menahun atau dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, sampai hari ini belum tersedia vaksin untuk mencegah seseorang dari infeksi virus HCV.

Atas dasar itulah menjadi amat penting untuk mengetahui beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terserang hepatitis C. Sebab, mungkin, untuk saat ini hanya itulah cara satu-satunya untuk membendung tubuh dari rundungan penyakit ini.

Utamanya, virus HCV dapat sampai di tubuh seseorang dan berkembang untuk menggerogoti tubuh melalui kontak dengan penderita. Baik tanpa maupun dengan sesuatu sebagai perantaranya. Cairan tubuh, utamanya darah, menjadi salah satu jalan paling efektif bagi HCV berpindah ke orang lain.

Untuk lebih jelas mengenai faktor-faktor risiko hepatitis C, di bawah ini tersedia pemaparannya:

  • Penggunaan Alat Medis yang Terkontaminasi

Alat medis yang tidak steril dan digunakan bergiliran atau bergantian mampu menjadi wadah penularan virus hepatitis C (VHC). Meski hal ini sekadar faktor risiko penularan yang rendah, tetapi tidak saja tak bisa diabaikan. Maka dari itu sebaiknya fasilitas medis tetap memperhatikan kebersihan alat-alat yang digunakan sebagai perangkat kerjanya.

  • Kondisi Tempat Tinggal dan Tempat Kerja

Kondisi tempat tinggal dan lingkungan kerja Anda bisa menjadi faktor risiko hepatitis, jika:

Anda merawat dan tinggal bersama seseorang yang menderita hepatitis. Virus hepatitis bisa menular dari barang-barang pribadi yang digunakan bersama, seperti sikat gigi, alat cukur, atau bahkan pemotong kuku yang mungkin telah terinfeksi darah dalam jumlah kecil.

Anda merupakan petugas layanan kesehatan (dokter, suster, perawat, atau bidan). Pasalnya, pekerjaan-pekerjaan tersebut memiliki intensitas yang tinggi untuk terpapar dengan darah dan peralatan kesehatan yang mungkin saja telah terkontaminasi virus hepatitis C.

  • Kontak antara Benda-Benda Tajam dan Tubuh

Jarum suntik yang tidak steril dan digunakan secara bergantian mampu menularkan virus Hepatitis C. Tidak dianjurkan melakukan kegiatan menyuntik di tempat yang tidak terjamin kebersihannya dan keamanannya. Orang yang mengonsumsi narkoba dengan metode suntik merupakan kelompok yang paling rentan dalam faktor risiko ini.

Selain itu, aktivitas menindik atau menato bagian tubuh juga berpotensi menyebabkan hepatitis C jika alat-alat yang digunakan tidak steril dari virus HCV.

Faktor risiko ini juga termasuk penggunaan alat cukur secara bersama-sama.

  • Penyalahgunaan Obat-Obatan dan Alkohol

Obat tertentu bisa menyebabkan kerusakan hati parah jika Anda menggunakannya tak sesuai aturan, contohnya paracetamol (acetaminophen). Obat-obatan lainnya juga bisa memicu hepatitis, seperti methotrexate (Trexall, Rheumatrex), yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis dan psoriasis.

Selain obat-obatan, konsumsi alkohol jangka panjang juga dapat menyebabkan hepatitis. Orang yang paling berisiko adalah mereka yang minum sampai 100 gram alkohol setiap hari, dan rutin mengonsumsi sekitar 10 minuman beralkohol atau lebih dalam sehari, selama beberapa tahun.

  • Transfusi Darah

Penerima transfusi atau produk darah dengan sumber yang belum diskrining meningkatkan risiko hepatitis C. Yang dimaksud skrining sendiri adalah uji laboratorium mengenai tingkat kelayakan darah sebelum didonorkan.

  • Aktivitas Seksual Tidak Aman

Aktivitas seksual yang tidak aman juga menjadi faktor risiko penularan hepatitis C. Aktivitas seksual tidak aman antara lain; berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom (baik itu vaginal, anal, maupun oral). Penyakit ini dikabarkan dapat pula ditularkan kepada bayi dari ibu yang terinfeksi, meski kasusnya sangat jarang.

Yang perlu diingat adalah, faktor risiko penularan hepatitis C ini tidak termasuk aktivitas menyusui (pemberian ASI pada bayi) maupun kontak fisik seperti memeluk atau mencium.

***

Kendati saat ini dunia medis terus mengembangkan keilmuannya dalam hal penanganan dan pengobatan kepada mereka yang terpapar hepatitis C, tetapi jangan pernah sekalipun Anda menunggu hingga terlular untuk menyadari betapa bahayanya penyakit ini.

Jika Anda belum tertular upayakan hindari dan jauhi faktor-faktor risiko hepatitis C di atas. Senadainya, Anda menjalani profesi dengan potensi terinfeksi virus ini, tetaplah pastikan Anda telah terproteksi dengan baik sebelum memulai pekerjaan.

Sementara itu, manakala seseorang telah terlanjur terinfeksi, penting kiranya penderita hepatitis C melakukan pemeriksaan rutin oleh tenaga medis sembari terus menjaga kesehatannya sebaik mungkin.

Read More