Category Penyakit

Kenali Benjolan di Telapak Tangan Anda

Benjolan di telapak tangan bisa menjadi kondisi yang sangat tidak nyaman untuk dihadapi siapa pun. Benjolan ini bisa terasa sakit saat disentuh, mengganggu aktivitas menggenggam atau memegang, dan bahkan menurunkan rentang gerak pada jari-jari tertentu.

Meskipun ada banyak kemungkinan penyebab benjolan di telapak tangan, kondisi ini sering kali berkembang akibat kontraktur Dupuytren. Kontraktur Dupuytren adalah saat 1 jari atau lebih menekuk ke arah telapak tangan. Kontraktur Dupuytren terutama mempengaruhi jari manis dan kelingking, namun Anda bisa memilikinya di kedua tangan pada saat bersamaan.

Kondisi benjolan di tangan ini cenderung memburuk secara perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Perawatan biasanya tidak dapat membantu pada tahap awal munculnya kondisi. Seiring waktu, simpul dapat berkembang menjadi tali yang kuat yang dapat memaksa jari-jari tertentu untuk membungkuk.

Pada titik ini, penyebab pasti dari kontraktur Dupuytren masih belum diketahui. Kondisi ini tidak mempengaruhi tendon atau berkembang sebagai akibat dari trauma atau penggunaan berlebihan. Meskipun tidak ada jawaban yang jelas tentang apa yang menyebabkan kondisi ini, individu tertentu memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan kontraktur Dupuytren, termasuk:

  • Peminum alkohol berat,
  • Perokok lama,
  • Pasien diabetes atau epilepsi, dan
  • Orang yang memiliki gen Eropa Utara.

Pada tahap awal kontraktur Dupuytren, gejala utamanya biasanya berupa benjolan di telapak tangan. Padahal dalam kasus tertentu, banyak benjolan bisa berkembang. Di luar sedikit rasa nyeri, benjolan ini umumnya tidak menimbulkan terlalu banyak masalah.

Dalam kasus kontraktur Dupuytren yang lebih berkembang, mungkin ada gangguan fisik pada jari manis dan kelingking. Karena tali tebal yang berkembang di bawah permukaan kulit, jari-jari terluar ini ditarik ke dalam menuju telapak tangan Anda. Dalam posisi bengkok ini, mungkin sulit untuk meluruskan jari yang terkena atau melakukan tugas dasar lainnya yang menggunakan tangan.

Perawatan kontraktur Dupuytren bisa menjadi proses yang rumit. Akibatnya, sangat penting bagi seorang dokter profesional untuk mendiagnosis dan merawat kondisi ini. Upaya pengobatan sendiri, terutama memaksa jari yang terkena untuk diluruskan dengan dapat memperburuk gejala.

Apakah Anda membutuhkan bantuan medis untuk benjolan di telapak tangan Anda? Jawabannya adalah iya, karena tidak ada obat untuk penyakit Dupuytren. Namun, kondisinya tidak mengancam jiwa, dan mungkin tidak menyebabkan ketidaknyamanan selama bertahun-tahun. Beberapa orang dengan kondisi tersebut tidak pernah membutuhkan perawatan, namun membutuhkan pemantauan.

Setelah mendiagnosis kontraktur Dupuytren, biasanya dokter secara tradisional akan mencoba mematahkan atau melepaskan tali tebal di telapak tangan. Ini bisa terjadi tanpa intervensi bedah, melalui penggunaan jarum suntik atau suntikan enzim. Namun dalam kasus tertentu, Anda mungkin perlu menjalani operasi untuk mengatasi kontraktur Dupuytren.

Kontraktur Dupuytren bukanlah kondisi yang berbahaya, tetapi dapat melumpuhkan jika menjadi parah. Hubungi dokter Anda untuk membuat janji jika:

  • Anda memiliki satu atau lebih benjolan di telapak tangan Anda
  • Anda kesulitan meluruskan jari-jari Anda
  • Anda mengalami kesulitan dalam menangkap benda
  • Anda tidak dapat meletakkan tangan Anda di atas meja atau meletakkan tangan Anda di saku

Meskipun gejalanya merupakan benjolan di telapak tangan, penyakit Dupuytren biasanya tidak mempengaruhi ibu jari atau jari telunjuk Anda, sehingga mungkin tidak terlalu mengganggu Anda sejak dini. Tetapi tetap penting untuk menemui dokter Anda jika Anda merasa memiliki gejala. Karena kondisi dapat menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu dan akhirnya membuat Anda tidak bisa membuka tangan, memegang benda besar, atau memasukkan tangan ke dalam ruang kecil.

Read More
Otot Berkedut Bikin Khawatir, Pertanda Apakah Ini?

Otot Berkedut Bikin Khawatir, Pertanda Apakah Ini?

Pernahkah Anda mengalami otot berkedut secara tiba-tiba? Atau sedang istirahat tanpa disadari otot Anda mulai berkedut? Kondisi ini mungkin sering dialami oleh banyak orang, tetapi sering pula diabaikan dan dianggap bukanlah hal yang serius. Meskipun begitu, bisa saja otot berkedut pertanda seseorang sedang mengalami kondisi tertentu. 

Otot berkedut pertanda apa?

Otot berkedut sering disebut juga dengan fasikulasi. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa fasikulasi bisa menjadi pertanda adanya masalah pada sistem saraf Anda. Berikut ini penyebab terjadinya otot berkedut sekaligus menunjukkan adanya suatu hal yang tidak beres sedang terjadi pada tubuh Anda.

  1. Kekurangan elektrolit.

Kekurangan elektrolit yang penting keberadaannya di dalam tubuh, seperti kalsium, kalium, dan magnesium, dapat menyebabkan otot berkedut. Pasalnya, mineral-mineral ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan fungsi kerja otot.

Kalsium dan magnesium berperan penting dalam kontraksi otot dan penghantaran sinyal saraf. Kedua zat gizi ini saling bekerja sama, sehingga dapat membantu mengurangi kram dan kedutan otot. Sementara itu, kalium berperan penting dalam menghantarkan sinyal saraf dan kontraksi otot. Itulah mengapa kekurangan elektrolit ini dapat menyebabkan otot Anda berkedut. Penting untuk dicatat bahwa obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi keseimbangan elektrolit dalam tubuh.

  1. Kekurangan vitamin D.

Selain kekurangan elektrolit, otot berkedut juga dapat menandakan bahwa tubuh Anda kekurangan vitamin D. Vitamin ini sangat penting untuk kesehatan otot dan tulang. Vitamin D membantu penyerapan mineral kalsium dan terlibat dalam proses transmisi impuls saraf. Bisa dibayangkan bukan jika tubuh Anda kekurangan vitamin D, maka apa yang akan terjadi?

  1. Dehidrasi.

Cairan vital dalam tubuh bisa saja hilang melalui ekskresi keringat, urin, muntahan, dan lainnya, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. Ketika tubuh dehidrasi, maka aliran darah ke otot menjadi berkurang secara signifikan. Akhirnya, memengaruhi kemampuan otot tubuh untuk melakukan fungsinya secara normal, seperti berkontraksi dan relaksasi, termasuk pula menyebabkan otot berkedut.

  1. Kelelahan setelah latihan fisik.

Otot berkedut juga bisa terjadi setelah Anda melakukan latihan fisik, terutama dengan intensitas berat dan otot terlalu banyak bekerja hingga mengalami kelelahan. Selama berolahraga, Anda akan kehilangan banyak elektrolit melalui keringat, sehingga tubuh akan mengalami kekurangan magnesium, kalsium, magnesium, dan elektrolit lainnya. Akibatnya, otot Anda pun jadi berkedut.

Selain itu, asam laktat yang terbentuk di otot selama latihan juga berkontribusi pada kedutan otot. Ini terjadi ketika tubuh yang seharusnya menggunakan cadangan oksigen untuk mengubah glukosa menjadi energi, tetapi tidak memiliki cukup oksigen untuk melakukan proses ini, maka asam laktat yang akan dipecah menjadi energi tanpa oksigen. Asam laktat yang tidak dapat digunakan secepat saat dibuat inilah yang menyebabkan gejala seperti nyeri dan kedutan otot, mual, dan tubuh lemah.

  1. Kelebihan kafein dan alkohol.

Tanda-tanda tubuh kelebihan kafein dan alkohol sebenarnya dapat terlihat jelas, termasuk juga otot berkedut. Mengapa? Stimulan dalam kafein dosis tinggi dapat menyebabkan ketegangan pada serat otot di seluruh tubuh. 

Selain itu, kafein bertindak sebagai diuretik ringan, sehingga jika konsumsi berlebihan, berisiko mengalami dehidrasi yang dapat menimbulkan kedutan pada otot. Mekanisme lainnya adalah kafein yang juga dapat memblokir penyerapan nutrisi dan elektrolit tertentu, seperti magnesium, potasium, dan vitamin D, di mana semua zat gizi ini berperan penting dalam mencegah otot berkedut.

Adapun konsumsi alkohol berlebihan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi dan elektrolit yang penting untuk kesehatan otot.

  1. Kurang tidur.

Kedutan otot dapat muncul ketika tubuh Anda sangat lelah dan kurang tidur, terutama jika Anda tetap memaksakan olahraga. Kemampuan neurotransmiter di otak yang berperan dalam menyampaikan pesan ke seluruh tubuh jadi berkurang. Akibatnya, pengiriman sinyal ke otot juga terganggu, sehingga menyebabkan otot berkedut.

  1. Stres.

Stres adalah gejala atau penyebab banyak kondisi kesehatan tubuh, termasuk masalah pada otot. Ketika Anda stres, tubuh akan bersiap melawan bahaya yang akan segera terjadi dan ini akan memengaruhi kerja dari sistem saraf jadi tidak menentu, karena impuls saraf juga bertanggung jawab dalam mengendalikan kontraksi otot. Jadi, tidak heran jika stres menyebabkan otot Anda jadi berkedut.

Masih banyak lagi faktor-faktor yang dapat menyebabkan otot berkedut, seperti efek dari konsumsi obat-obatan tertentu (contohnya obat antidepresan dan obat tekanan darah tinggi) atau kondisi medis, seperti ALS, SMA, Isaac’s syndrome, atau distrofi otot.

Umumnya, otot berkedut tidak memerlukan pengobatan khusus dan hilang dalam beberapa hari. Namun, sebaiknya konsultasikanlah dengan dokter jika Anda mengalaminya bersamaan dengan gejala-gejala lain yang mungkin tidak dapat dijelaskan tanpa bantuan dokter. Selain itu, lakukan perubahan gaya hidup lebih sehat, seperti kurangi kafein dan alkohol, cukup tidur, tetap terhidrasi, dan penuhi asupan zat gizi penting yang bermanfaat untuk kesehatan otot Anda. 

Read More

Pahami Infeksi Saluran Pernapasan

Respiratory tract infections atau dikenal juga dengan sebutan infeksi saluran pernapasan merupakan infeksi yang menyerang sistem saluran pernapasan manusia. Penyebab infeksi ini biasanya terjadi karena bakteri atau virus. Menurut lokasi terjadinya, infeksi yang menyerang saluran pernapasan ini terbagi menjadi dua jenis, yakni infeksi di saluran pernapasan atas dan bawah.

Infeksi saluran pada saluran pernapasan ini disebabkan kuman patogen seperti bakteri, virus, jamur atau parasit. Penularan kuman patogen bisa muncul karena seseorang menghirup percikan cairan dari saluran napas, seperti doplet dari penderita lain. Percikan ini bisa keluar ketika penderita tersebut batuk atau bersin.

Infeksi Saluran Pernapasan

Seperti yang disebutkan sekilas di atas jika terdapat dua jenis infeksi, upper respiratory tract infections (URI/URTI) atau infeksi yang terjadi di saluran pernapasan atas biasanya terjadi pada rongga hidung, sinus dan tenggorokan. Beberapa penyakit yang termasuk menjadi infeksi ini adalah sinuitis, pilek, tonsilitis hingga laringitis.

Sementara itu, lower respiratory tract infections (LRI/LRTI) adalah infeksi yang terjadi di saluran pernapasan bawah, yakni pada jalan napas dan paru-paru. Penyakit tersebut seperti, bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia. Infeksi saluran ini biasanya dialami oleh segala usia, namun bisa lebih rentan terhadap anak-anak karena sistem pertahanan tubuh terhadap virus belum terbentuk.

Penyebab Infeksi

Selain disebabkan karena virus, bakteri, jamur atau parasit, infeksi ini juga bisa dialami seseorang ketika menyentuh benda-benda yang sudah terpapar virus atau bakteri tersebut. Infeksi kemudian bisa terjadi karena tanpa sengaja seseorang langsung memegang hidungnya tanpa membersihkan tangan, berikut ini beberapa kuman patogen yang sering menyebabkan infeksi.

  • Infeksi virus seperti rhinovirus, virus corona, parainfluenza, adenovirus, influenza, respiratory syncytial virus, esptein-bar virus, ctymegalovirus, virus herpes simplex hingga hantavirus.
  • Infeksi bakteri seperti streptococcus grup A, corynebacterium diphtariae, neseira gonorrhoeae, mycoplasma pneumoniae, streptococcus pneumonia dan bakteri anaerob lainnya.
  • Infeksi jamur yang disebabkan seperti candida, histiplasma atau aspergillus dan adanya infeksi parasit seperti pneumoctys carinii.

Selain karena beberapa penyebab di atas, seseorang bisa terkena atau mengalami infeksi terhadap saluran pernapasan dalam waktu tiba-tiba atau dikenal dengan ISPA. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, selain itu mudah menular lewat percikan air liur atau droplet, misalnya seperti flu, SARS dan virus corona.

Gejala Infeksi

Infeksi terhadap saluran pernapasan bisa menimbulkan gejala yang beragam, keluhan akan gejala bisanya tergantung dari kuman yang menyebabkan infeksi. Selain itu, juga bisa karena letak infeksi, kondisi sistem imun atau kekebalan tubuh, faktor usia dan kondisi kesehatan dari penderita tersebut, beberapa keluhan dan gejala seperti berikut.

  • Batuk, bersin-bersin, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, sakit kepala, pilek, tidak enak badan, nyeri otot, demam dan kedinginan.
  • Sesak napas, sulit untuk bernapas, mengi atau juga bengek, keringat di malam hari, turunnya kemampuan indera penciuman hingga mata terasa gatal dan berair.
  • Gejala lain seperti sulit makan, rewel dan gangguan tidur akan dialami oleh anak-anak dan bayi yang mengalami infeksi saluran pernapasan ini, gejala bisa berlangsung selama tiga hingga 14 hari.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami beberapa tanda gejala yang disebutkan di atas, terutama jika keluhan akan kondisi tersebut semakin parah atau setidaknya mengganggu aktivitas. Lakukan pemeriksaan segera jika gejala berlangsung lebih dari 14 hari disertai dengan demam hingga mencapai suhu 39 derajat celcius.

Read More

Kenali Perbedaan Rapid Test Antibodi dan Rapid Test Antigen

Beda rapid test antibodi dan rapid test antigen bisa dilihat dari jenis sampel yang diambil, prosedur, dan alur pemeriksaannya

Berdasarkan pedoman pencegahan dan pengendalian Coronavirus Disease yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), penanganan Covid-19 di Indonesia menggunakan dua jenis rapid test berbeda, yaitu rapid test antibodi dan rapid test antigen.

Rapid test antibodi dan rapid test antigen dapat dilakukan oleh orang-orang dengan kasus suspek atau orang-orang yang kontak erat dengan kasus probable atau kasus konfirmasi Covid-19. Selain itu, rapid test antibodi dan rapid test antigen dapat dilakukan untuk mendeteksi kasus suspek pada wilayah yang tidak memiliki fasilitas untuk pemeriksaan Rapid TestPolymerase Chain Reaction (RT-PCR) atau tidak mempunyai media pengambilan spesimen (Swab dan VTM).

Perlu diketahui bahwa hasil pemeriksaan rapid test antibodi dan rapid test antigen hanya merupakan skrining awal. Maka, hasil pemeriksaan rapid test antibodi dan rapid test antigen tetap harus dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR atau swab tenggorokan sebagai langkah diagnosis corona agar infeksinya dapat dipastikan dengan tepat.

Beda rapid test antibodi dan rapid test antigen dapat dilihat dari jenis sampel yang diambil, prosedur, dan alur pemeriksaannya.Untuk mengetahui beda rapid test antibodi dan rapid test antigen lebih lanjut, simak pembahasan selengkapnya.

  1. Jenis sampel rapid test yang diambil

Salah satu beda rapid test antibodi dan rapid test antigen dapat dilihat dari jenis sampel test yang diambil. Rapid test antibodi adalah tes pemeriksaan cepat Covid-19 menggunakan sampel darah yang diambil dari pasien. Ini merupakan jenis tes cepat yang paling umum dilakukan oleh banyak orang sebagai pemeriksaan virus corona.

Saat seseorang terinfeksi virus corona, tubuhnya akan menghasilkan antibodi dalam beberapa hari atau pekan kemudian.Sebuah hasil studi mengemukakan bahwa respons antibodi pada sebagian besar pasien Covid-19 akan muncul dengan kadar paling tinggi pada pekan kedua setelah terinfeksi virus SARS-Cov-2.Kekuatan akan respons tersebut berbeda pada setiap orang. 

Antigen dapat terdeteksi ketika ada infeksi yang sedang berlangsung dalam tubuh seseorang. Rapid swab dapat mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada orang yang sedang mengalaminya. Ini sebabnya, rapid test antigen paling baik dilakukan pada orang yang baru saja terinfeksi Covid-19.

  1. Prosedur rapid test yang dilakukan

Selain jenis sampelnya, beda rapid test antibodi dan rapid test antigen juga terlihat dari prosedur pengambilannya. Pada rapid test antibodi sampel yang digunakan adalah darah. Prosedur pengambilan darah meliputi:

  • Tenaga medis akan membersihkan area pengambilan darah dengan cairan antiseptik untuk membunuh bakteri dan kuman.
  • Lengan atas pasien akan diikat dengan perban elastis agar aliran darah di lengan terkumpul.
  • Setelah pembuluh darah vena ditemukan, darah akan diambil dengan cara menyuntikkan jarum steril ke pembuluh darah.
  • Ketika jumlah darah sudah cukup, jarum akan dilepas dan bagian yang disuntik akan ditutup dengan perban.
  1. Alur pemeriksaan rapid test

Beda rapid test antibodi dan rapid test antigen juga terletak pada alur pemeriksaannya.Menurut Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) Kemenkes RI, berikut adalah beda rapid test antibodi dan rapid test antigen pada alur pemeriksaan selanjutnya.

Read More

Kenali Gejala dan Obat Tifus

informasi seputar gejala dan obat tifus

Hampir 26 juta orang di dunia terkena penyakit tifus tiap tahunnya. Demam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi ini kerap menyerang penduduk negara berkembang. Afrika, India, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara menjadi kawasan yang memiliki statistik infeksi tifus yang tinggi di dunia. Anak-anak menjadi usia yang rentan terkena penyakit ini 

Banyaknya kasus tifus tiap tahun dikarenakan vaksin untuk penyakit ini sudah ada, namun dinilai kurang efektif. Di sisi lain, penyebaran infeksi bakteri dari Salmonella typhi sangat mudah melalui air ataupun makanan yang terkontaminasi. Alhasil, obat tifus untuk pengobatan orang-orang yang terinfeksi menjadi jawaban lebih pasti untuk penanganan jenis demam yang satu ini. 

Tifus sebenarnya termasuk penyakit yang penderitanya rata-rata dapat sembuh total dalam waktu 1—2 minggu jika ditangani dengan tepat. Namun, terdapat pula kasus-kasus demam tifus yang bergejala parah dan diikuti komplikasi penyakit lain sehingga tingkat fatalitasnya menjadi tinggi. 

Gejala Demam Tifus 

Ketika bakteri Salmonella thypi masuk ke tubuh Anda, gejala tifus tidak langsung Anda alami. Gejala baru mulai dirasakan dalam periode 7—14 hari setelah bakteri ini menginfeksi. Beberapa gejala tampak seperti demam biasa, namun ada pula gejala yang masuk kategori berat. 

  • Gejala Umum 

Gejala umum yang biasa dirasakan oleh penderita demam tifus adalah sebagai berikut. 

  1. Demam Tinggi 

Infeksi bakteri Salmonella thypi kerap menimbulkan demam di atas 38 derajat Celsius. 

  1. Sakit Kepala 

Penderita tifus juga akan merasakan pusing yang menyeluruh di kepala. 

  1. Masalah Pencernaan 

Tidak jarang gejala tifus akan menimbulkan masalah pencernaan, mulai dari nafsu makan yang berkurang drastis, sakit perut, sampai diare atau justru sembelit. 

  1. Kelelahan 

Anda juga akan mudah lelah ketika bakteri Salmonella sudah menginfeksi tubuh. Karena itulah, pasien tifus diwajibkan untuk melakukan istirahat total agar gejala ini tidak bertambah parah. 

  1. Ruam 

Beberapa kasus tifus akan menimbulkan gejala di area kulit dengan munculnya ruam-ruam tanpa sebab. 

  • Gejala Serius

Gejala serius akan dialami oleh pasien tifus yang ternyata mengalami komplikasi. Berikut beberapa gejala serius yang harus sangat diwaspadai karena dapat berujung pada kematian. 

  1. Mual, Muntah, dan Sakit Perut Parah 

Gejala umum dari tifus memang termasuk sakit perut. Namun, apabila sakit perut yang Anda alami begitu parah disertai mual dan muntah, Anda harus meningkatkan kehati-hatian sebab bisa jadi ada komplikasi berupa pendarahan di usus. 

  1. Sesak Napas 

Tifus juga rentan menimbulkan komplikasi berupa radang paru-paru. Apabila Anda mengalami gejala sesak napas, cobalah untuk mengecek kembali ke dokter sebab bisa jadi ada komplikasi radang paru-paru. 

  1. Meningitis 

Jika gejala tifus yang dialami mencapai pada halusinasi dan tingkat ketakutan tinggi, ada kemungkinan infeksi bakteri sudah menyentuh bagian selaput otak dan menimbulkan peradangan. 

Penanganan dan Obat 

Terapi antibiotik menjadi satu-satunya penanganan yang dinilai efektif untuk tifus. Sampai saat ini ada beberapa jenis antibiotik yang biasa diresepkan kepada penderita demam tifus, yaitu sebagai berikut. 

  • Ciprofloxacin 

Ciprofloxacin menjadi antibiotik yang paling sering diresepkan untuk meredakan infeksi Salmonella typhi. Ciprofloxacin umum diberikan kepada penderita tifus dewasa dan sedang dalam kondisi tidak hamil. 

  • Azitromisin 

Tidak semua bakteri infeksi Salmonella typhi bisa mereda dengan pemberian Ciprofloxacin. Apabila Anda menderita jenis tifus yang sudah resisten terhadap penggunaan Ciprofloxacin, dokter akan memberikan resep antibiotik berupa Azitromisin. 

  • Ceftriaxone 

Ini merupakan satu-satunya antibiotik non-oral. Penggunaannya disuntikkan kepada pasien tifus. Obat tifus ini digunakan sebagai alternatif pengobatan untuk anak-anak yang mengalami infeksi bakteri Salmonella typhi. 

Meskipun obat antibiotik sudah tersedia dan dikenal ampuh memulihkan kondisi pasien yang menderita tifus, pencegahan tetaplah jalan terbaik. Pasalnya, berbagai obat antibiotik bisa menyebabkan efek samping dalam penggunaan jangka panjang. Penggunaan antibiotik yang terlalu sering juga dapat menimbulkan efek kebal bagi bakteri penyebab demam tifus.

Read More

Gejala-Gejala Alergi Ayam

gejala alergi ayam yang perlu diwaspadai

Tidak sebanyak alergi telur atau kacang, namun ada juga orang yang memiliki alergi ayam. Bahkan, jenis alergi ini pun dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga berbahaya pada sebagian orang jika tidak dapat ditangani dengan baik. Hal ini dapat terjadi karena sistem imun justru menyerang alergen sebagai substansi yang berbahaya. Alergi ayam juga bisa terjadi pada orang dengan usia berapapun. Mungkin saat masih kecil dan perlahan membaik saat beranjak dewasa. Selain itu, kondisi ini bisa terjadi dengan tiba-tiba ketika sudah dewasa atau pada jenis ayam yang diolah dengan cara tertentu. Jika seseorang mengalami alergi ayam, akan ada beberapa gejala yang muncul. Gejala ini bisa terjadi langsung hingga beberapa jam kemudian, seperti:

  • Mata gatal dan berair
  • Hidung berair
  • Bersin terus menerus
  • Kesulitan bernapas
  • Tenggorokan gatal
  • Batuk
  • Ruam kemerahan di kulit
  • Mual dan muntah
  • Kram perut
  • Diare
  • Reaksi anaphylaxis

Gejala alergi ayam yang terakhir berupa anaphylaxis sangat berbahaya karena dapat mengancam nyawa. Reaksi utamanya dapat muncul pada saluran pernapasan dan dapat muncul dalam hitungan detik atau menit setelah terpapar alergen.

Orang yang memiliki alergi ayam biasanya juga mengalami alergi terhadap makanan unggas atau makanan laut lainnya seperti bebek, kalkun, ikan, hingga udang. Orang yang alergi ayam juga bisa mengalami reaksi alergi saat kontak bulu, kotoran, hingga debu dari bulu ayam. Pada beberapa kondisi, orang yang mengalami alergi ayam juga alergi terhadap telur. Penderitanya akan mengalami reaksi alergi terhadap substansi di dalam kuning telur.

Terkadang, seseorang bisa salah mengartikan bahwa alergi ayam sebagai penyakit demam biasa. Hal ini terjadi karena beberapa gejalanya seperti hidung berair dan radang tenggorokan memang serupa dengan demam biasa. Selain itu, seseorang juga bisa mengalami masalah pencernaan karena tubuh berusaha mengeluarkan alergen dari sistem cerna. Komplikasi yang paling berbahaya dari alergi ayam adalah reaksi anaphylaxis. Beberapa gejala terjadinya reaksi anaphylaxis yaitu:

  • Tekanan darah turun drastis
  • Jantung berdebar
  • Detak jantung cepat
  • Kesulitan bernapas
  • Saluran pernapasan bengkak
  • Bicara tidak jelas
  • Lidah dan bibir bengkak
  • Hilang kesadaran

Dokter akan meresepkan EpiPen untuk orang yang pernah mengalami, anaphylaxis atau berpotensi mengalami alergi berat. EpiPen berisi zat aktif epinephrine yang berbentuk seperti pulpen yang bisa disuntikkan sendiri saat dibutuhkan. Penting untuk membawa alat ini untuk menyelamatkan nyawa saat terjadi reaksi anaphylaxis.

Jika diketahui seseorang mengalami reaksi alergi ayam, maka perhatikan betul apa saja yang dikonsumsi. Terlebih, olahan dari ayam sangat umum ditemukan pada banyak masakan. Contohnya penggunaan kaldu ayam dalam sup atau olahan ayam dalam daging hamburger. Untuk itu, sebelum mengonsumsi olahan daging seperti bakso, pastikan kandungannya bebas dari ayam.Tidak kalah penting, diskusikan dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi apapun. Beberapa jenis vaksins seperti yellow fever vaccine bisa mengandung protein ayam. Selain itu, orang yang mengalami bird-egg syndrome juga tidak bisa mendapatkan vaksinasi influenza karena mengandung protein dari telur.Pada beberapa kasus, orang yang mengalami alergi ayam juga harus berhati-hati saat berada di area peternakan ayam atau unggas.

Read More

Suka Menimbun Barang? Waspada Hoarding Disorder!

Pernahkah Anda melihat orang di sekitar Anda suka menimbun barang yang tidak penting? Atau Anda sendiri sedang mengalaminya? Hati-hati, bisa saja Anda mengalami hoarding disorder, yaitu suatu gangguan yang terjadi pada seseorang karena suka menimbun barang-barang. Mulai dari barang yang bernilai tinggi hingga barang tidak bernilai sama sekali. Sejauh mana seseorang bisa dikatakan mengalami hoarding disorder? Apa pula bedanya dengan para kolektor? Simak yuk, penjelasannya berikut ini!

Mengenal hoarding disorder.

Hoarding disorder atau gangguan penimbunan adalah ketika seseorang memperoleh banyak sekali barang dan menyimpannya dengan cara yang tidak beraturan. Orang yang mengalami gangguan ini tidak dapat memilah barang yang penting untuk dirinya. Akibatnya, lingkungan rumah yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang tersebut menjadi tidak rapi dan sehat.

Sebagian besar orang pasti pernah mengoleksi barang-barang yang mungkin disukai. Hanya saja, ini berbeda, kolektor hanya mengoleksi barang tertentu dan menyimpannya dengan rapi. Sementara itu, penimbun akan mengumpulkan semua barang dan menyimpannya secara acak dan tidak beraturan.

Hoarding disorder semakin jelas terlihat apabila:

  • Jumlah barang sudah memakan tempat di rumah. Misalnya, penderita tidak dapat lagi menggunakan dapur, kamar tidur, atau kamar mandi akibat sudah penuh dengan barang-barang.
  • Kebiasaan menimbun sudah menurunkan kualitas hidup penderita atau keluarganya. Contohnya, penderita kesal jika barang-barangnya diganggu atau dibereskan oleh orang lain dan memusuhi orang tersebut.

Penyebab hoarding disorder.

Orang yang suka menimbun meyakini bahwa:

  • Barang berharga dan masih berguna di masa depan.
  • Barang tersebut bernilai, unik, tidak tergantikan, atau terlalu murah untuk dibuang.
  • Barang dianggap sebagai pengingat hal tertentu, di mana tanpa barang itu, mereka tidak bisa ingat hal-hal yang penting.
  • Penderita tidak dapat memutuskan barang itu milik siapa, sehingga lebih baik menyimpannya saja dari pada dibuang.

Hoarding disorder sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), depresi, dan kegelisahan.

Dalam kasus yang jarang terjadi, hoarding disorder dikaitkan dengan gangguan makan, pica (mengonsumsi bahan non-makanan), Prader-Willi syndrome (kelainan genetik), psikosis, demensia, dan skizofrenia.

Gejala umum hoarding disorder.

Pertama kali yang terlihat pada orang yang suka menimbun adalah memperoleh dan menyimpan barang dalam jumlah banyak. Perlahan-lahan, barang banyak menumpuk di rumah dan sulit sekali untuk membuangnya. Gejala lainnya termasuk:

  • Sebagian besar barang yang diperoleh tidaklah penting bahkan sudah tidak ada tempat lagi untuk barang tersebut.
  • Kesulitan untuk memilah dan membuang barang-barang, terlepas dari nilai sebenarnya.
  • Merasa barang-barang tersebut perlu disimpan dan kesal jika membuangnya.
  • Rela menggunakan ruangan yang sering digunakan untuk menimbun barang.
  • Cenderung memiliki kepribadian perfeksionisme, suka menunda, menghindar, dan tidak terorganisir.

Barang-barang yang ditimbun ini mengakibatkan:

  • Tumpukan barang yang tidak teratur, berantakan, dan bercampur dalam satu ruangan.
  • Memadati dan mengacaukan ruang keluarga, serta mengalihfungsikan ruangan jadi tidak dapat digunakan untuk tujuan yang sebenarnya. Misalnya, tidak bisa memasak di dapur atau menggunakan kamar mandi untuk mandi.
  • Lingkungan menjadi tidak sehat, terutama yang ditimbun makanan atau sampah.
  • Sulit untuk menjaga diri sendiri dan orang lain tetap aman di rumah.
  • Memusuhi orang-orang yang mencoba mengurangi atau menghilangkan barang yang ditimbun dari rumah.

Hoarding disorder yang tidak ditangani segera, alias dibiarkan begitu saja, mungkin tidak akan pernah bisa hilang. Kehilangan barang-barang yang ditimbun bagi penimbun tidak hanya menyebabkan kesepian dan gangguan mental, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan bagi penimbun.

Oleh sebab itu, jika Anda atau keluarga Anda mengalami hoarding disorder, maka konsultasikan dengan dokter atau psikiater secepat mungkin. Dokter akan melakukan pemeriksaan skrining dan terapi untuk membantu menghilangkan gangguan ini. Jangan ragu untuk menghubungi pihak berwenang setempat, seperti polisi, badan kesejahteraan hewan, dan sejenisnya jika kesehatan atau keselamatan jiwa penimbun yang Anda kenal terancam.

Read More

Penyebab Keputihan Berdarah, Apakah Berbahaya?

Keputihan sebenarnya proses alami membersihkan serta melindungi vagina dari iritasi. Hanya saja, keputihan tidak berbau pada umumnya, tidak memiliki warna, dan tidak memberikan efek gatal di sekitar Miss V. Namun, bila terjadi keputihan berdarah dan berbau, sebaiknya Anda berhati-hati.

keputihan berdarah

Kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika keputihan berdarah tidak di antara siklus menstruasi. Bisa jadi ini pertanda adanya infeksi atau kondisi medis yang harus segera ditangani.

Penyebab Keputihan Berdarah

Jika Anda mengalami keputihan dengan bercak cokelat atau merah, ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu:

  1. Hormon dan Siklus Menstruasi

Faktor penyebab adanya bercak pada keputihan seseorang, biasanya berkaitan dengan hormon dan siklus menstruasi. Ada beberapa penyebabnya, yaitu:

Disebabkan oleh siklus anovulasi, maksudnya kondisi saat ovarium gagal melepaskan sel telur. Kondisi ini terjadi pada wanita yang mendekati masa menopause atau wanita yang baru mengalami menstruasi pertama kali.

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif sehingga membuat kadar hormon wanita menjadi tidak seimbang. JIka keputihan terdapat bercak disebabkan karena hal ini, maka Anda perlu berkonsultasi ke dokter sehingga segera mendapat penanganan.

Wanita yang mengalami sIndrom ovarium polikistik (PCOS) juga akan sering mengalami keputihan dengan bercak cokelat ataupun merah yang disebabkan karena siklus ovulasi.

Wanita yang menggunakan alat konstrasepsi hormonal seperti suntik dan pil KB. Biasanya mereka mengalami pendarahan uterus yang dapat membuat keputihan jadi ada bercak colekat atau merah.

Penggunaan IUD hormonal ternyata juga dapat menimbulkan bercak pada keputihan, terlebih pada bulan-bulan pertama pemakaian.

  • Infeksi Sistem Reproduksi

Selain faktor yang disebutkan di atas, keputihan berdarah bisa juga terjadi karena infeksi saluran reproduksi seperti gonore, kutil kelamin, serta klamida.

Wanita dengan vagina kering biasanya rentan lecet karena aktivitas seksual. Sehingga membuat keputihan bercampur darah. Infeksi karena protozoa seperti infeksi bakterial vaginosis, trikomoniasis, infeksi jamur ragi akan membuat keputihan menjadi berbau, kental serta amis meski tidak menunjukkan gejala.

  • Wanita Hamil

BIasanya kehamilan salah satunya ditandai dengan adanya bercak darah pada keputihan, dikenal dengan istilah Hartman Sign atau pendarahan implantasi. Hal ini disebabkan karena sperma berhasil membuahi sel telur dan menempl di dinding rahim.

Hartman Sign terjadi pada umumnya 1-2 minggu setelah pembuahan sel telur. Jika merasa jadwal menstruasi telat dan aktif berhubungan seksual beberapa waktu belakangan, kemungkinan Anda hamil. Cobalah dengan memeriksa kehamilan untuk memastikan.

Tapi, kondisi harus diwaspadai bila Anda sedang hamil namun mengalami bercak darah pada keputihan, tetapi usia kehamilan sudah lewat trimester pertama. Hal tersebut bisa menjadi tanda-tanda keguguran, kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim, persalinan prematur, terdapat gangguan pada leher rahim, serta gangguan pada plasenta.

  • Adanya Gangguan Rahim, Ovarium, dan Serviks

Keputihan dengan bercak darah dapat menjadi pertanda adanya kondisi serius pada organ reproduksi. Gangguan medis tersebut adalah kista ovarium yang pecah, endometriosis atau jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, kanker serviks, kanker rahim, serta kanker ovarium.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Keputihan Berdarah?

Dalam kondisi normal, terdapat bercak pada keputihan menjadi bagian dari siklus menstruasi. Atau bisa juga menjadi tanda kehamilan yang merupakan hal wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, Anda perlu waspada bila keputihan berdarah menunjukkan tanda-tanda tidak normal seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Bisa jadi keputihan dengan bercak merah menjadi indikasi kondisi medis serius.

Apalagi jika keputihan berdarah bercampur dengan bau, terasa gatal, tidak nyaman di area Miss V, dan gejala medis lainnya, segera konsultasikan ke dokter. Sehingga dokter bisa menganalisa lebih lanjut kondisi yang sedang dialami dan segera mendapat penanganan medis jika diperlukan.

Read More

Mengenal Jenis-jenis Penyakit Ensefalopati

Ensefalopati adalah istilah yang digunakan untuk kerusakan atau malfungsi otak.

Ensefalopati merupakan istilah umum untuk mendeskripsikan sebuah penyakit yang mempengaruhi fungsi atau struktur otak. Ada banyak jenis ensefalopati dan penyakit otak, mulai dari penyakit sementara hingga permanen. Beberapa jenis ensefalopati muncul sejak lahir dan tidak akan berubah seiring berjalannya waktu. Sementara itu, jenis lain dapat muncul kapanpun dan mungkin berubah semakin memburuk seiring Anda bertambah usia. Artikel ini akan membahas berbagai jenis ensefalopati yang perlu Anda ketahui. 

Jenis dan penyebab ensefalopati

Berikut ini adalah beberapa jenis ensefalopati yang umum dijumpai, serta hal-hal apa saja yang menjadi penyebabnya. 

  • Ensefalopati traumatik kronis

Ensefalopati jenis ini terjadi ketika ada beberapa trauma atau cedera pada otak. Cedera atau trauma tersebut dapat menyebabkan kerusakan saraf di otak. Kondisi ini sering terjadi pada atlet, seperti petinju dan pemain sepak bola. Para tentara yang pernah cedera karena ledakan tertentu juga dapat menderita ensefalopati jenis ini. 

  • Ensefalopati glisin

Ensefalopati jenis ini merupakan ensefalopati yang disebabkan oleh faktor kondisi genetik, atau keturunan, yang mana terdapat kadar glisin (asam amino) dalam jumlah tinggi di otak. Gejala ensefalopati glisin biasanya akan muncul setelah bayi lahir atau pasca persalinan. 

  • Ensefalopati hati

Ini disebabkan oleh penyakit hati. Saat hati Anda tidak dapat berfungsi dengan baik, racun yang biasanya dibuang dari tubuh malah menumpuk di darah untuk akhirnya sampai ke otak. 

  • Ensefalopati Hashimoto

Ini merupakan ensefalopati jenis langka yang dihubungkan dengan kondisi autoimun bernama penyakit Hashimoto. Dalam penyakit ini, sistem kekebalan tubuh Anda salah menyerang kelenjar thyroid. Kelenjar thyroid bertanggung jawab dalam produksi hormon pengatur tubuh. Para ilmuwan hingga kini masih belum tahu bagaimana kedua kondisi tersebut saling berhubungan. 

  • Ensefalopati hipertensif

Kondisi ini merupakan hasil dari tekanan darah tinggi yang tidak dirawat atau diobati dalam waktu yang lama. Hal ini dapat menyebabkan otak Anda membengkak, dan menyebabkan kerusakan otak atau ensefalopati hipertensif. 

  • Ensefalopati metabolik racun

Ensefalopati jenis ini merupakan hasil dari infeksi, racun, dan kegagalan organ tubuh. Saat elektrolit, hormon, dan zat kimia tubuh lain tidak seimbang seperti biasanya, hal tersebut akan mempengaruhi fungsi otak. Selain itu, akan ada kemungkinan keberadaan infeksi di tubuh atau zat kimia beracun. Ensefalopati dapat sembuh ketika ketidakseimbangan zat kimia yang menjadi penyebabnya dikembalikan ke kondisi semula atau racun dan infeksi dihilangkan. 

  • Ensefalopati hypoxic ischemic

Kondisi ini merupakan sebuah kerusakan otak yang disebabkan ketika otak tidak mendapatkan pasokan oksigen dalam jumlah yang cukup. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau disfungsi. Ensefalopati jenis ini dapat disebabkan karena kekurangan oksigen pada otak, misalnya saat janin yang masih berkembang di rahim terpapar oleh alkohol akibat gaya hidup tidak sehat sang ibu. 

  • Ensefalopati infeksi

Dikenal juga dengan nama penyakit prion. Prion merupakan protein yang dapat ditemukan secara alami di tubuh. Namun, protein tersebut dapat bermutasi dan menyebabkan penyakit yang secara perlahan merusak otak (penyakit neurodegenerative). 

  • Ensefalopati Wernicke

Juga dikenal dengan nama penyakit Wernicke, kondisi ini disebabkan karena defisiensi vitamin B1 akibat konsumsi alkohol dalam jangka panjang, asupan nutrisi yang buruk, dan penyerapan makanan yang tidak baik. 

Pemulihan atau penyembuhan dari kondisi ensefalopati tergantung pada seberapa parah kondisi yang dimiliki serta penyebab utama penyakit tersebut. Kebanyakan kasus ensefalopati dapat disembuhkan apabila penyebab dapat diidentifikasi dengan segera dan perawatan dimulai secepatnya. Namun, semua kondisi tersebut dapat berisiko fatal apabila tidak dirawat dan diobati.

Read More

Komplikasi Corona: Apa Saja Yang Bisa Terjadi?

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke setiap negara dan jumlah kasus semakin meningkat setiap hari. Jumlah kasus di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 1,3 juta. Selain itu, jumlah kematian terus terjadi dan telah mencapai lebih dari 74.000 orang. Hal tersebut terjadi karena dipicu oleh komplikasi Corona.

Manusia bisa saja mengalami komplikasi yang disebabkan oleh virus Corona dimana dapat memicu gangguan pernafasan. Tidak hanya menimbulkan gangguan pernafasan, orang-orang yang terkena infeksi virus Corona juga kemungkinan akan mengalami penyakit jantung dan kerusakan hati dan ginjal.

Tidak semua orang yang terkena infeksi virus Corona atau positif Corona akan mengalami gejala atau komplikasi yang parah, namun sebagian orang berpotensi memiliki risiko tinggi komplikasi Corona.

Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak merasakan gejala berat akibat Covid-19. Untuk mengatasi masalah atau gejala kecil seperti batuk-batuk, mereka dapat beristirahat di rumah. Namun, jika manusia mengalami gejala yang parah, mereka perlu dirawat di rumah sakit.

Orang-orang yang rentan terhadap virus Corona adalah lansia dan orang-orang yang memiliki penyakit tertentu seperti penyakit jantung atau diabetes. Infeksi virus Corona yang terjadi pada orang-orang seperti ini, berkembang menjadi kondisi yang sangat parah. Mereka juga kemungkinan akan mengalami komplikasi Corona sebagai berikut:

  • Pneumonia

Pneumonia adalah salah satu komplikasi Corona yang terjadi dimana kantung udara di paru-paru meradang sehingga membuat seseorang mengalami kesulitan untuk bernafas.

  • Gagal nafas akut

Jika manusia mengalami gagal nafas, tubuh tidak dapat menerima oksigen yang cukup dan tidak dapat membuang karbon dioksida. Gagal nafas akut adalah salah satu penyebab kematian sekitar 8% pasien yang positif Covid-19.

  • Acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Sebuah penelitian di Tiongkok mengungkap bahwa sekitar 15 hingga 33% pasien positif Covid-19 mengalami ARDS dimana hal tersebut membuat paru-paru rusak parah karena adanya cairan di dalam paru-paru. Hal ini membuat oksigen susah masuk sehingga pasien mengalami kesulitan untuk bernafas, dan mereka perlu menggunakan ventilator atau alat bantu nafas.

  • Kerusakan hati

Komplikasi virus Corona memang memicu kematian yang disebabkan oleh gangguan pernafasan. Hal tersebut juga dapat memicu komplikasi pada bagian hati sehingga dapat membuat hati rusak.

  • Gangguan jantung

Pasien yang mengalami gangguan jantung, mengalami risiko berupa aritmia (kelainan irama jantung) dan miokarditis (peradangan pada otot jantung).

  • Gagal ginjal

Jika pasien mengalami gangguan ginjal, maka dokter akan melakukan proses cuci darah hingga kondisinya membaik. Terkadang, kondisi ginjal pasien tidak dapat disembuhkan sehingga mereka mengalami gagal ginjal dan akan dirawat dalam jangka panjang.

  • Infeksi sekunder

Infeksi sekunder adalah infeksi kedua yang terjadi setelah infeksi awal, dan infeksi tersebut tidak ada hubungan dengan penyakit yang awalnya diderita. Contohnya, pasien terkena Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Setelah itu, pasien mengalami infeksi lain yang disebabkan oleh bakteri streptococcus.

  • Disseminated intravascular coagulation (DIC).

Penyakit ini dapat memicu proses pembekuan darah terganggu, dan membuat tubuh membentuk gumpalan-gumpalan darah yang tidak sesuai dengan tempatnya. Hal tersebut menyebabkan pendarahan pada organ tubuh.

  • Syok septik

Syok septik terjadi dimana respons tubuh terhadap infeksi salah sasaran. Hal tersebut justru membuat organ-organ yang sehat hancur, dan tidak menghancurkan virus penyebab penyakit. Hal tersebut juga memicu penurunan darah secara drastis sehingga dapat mengakibatkan kematian.

  • Rhabdomyolisis

Rhabdomyolisis menyebabkan jaringan otot mati. Hal ini dapat mempengaruhi kinerja myoglobin (protein dalam sel), dan jika myoglobin tidak dapat bekerja dengan baik, maka akan memicu kerusakan fungsi pada bagian tubuh dan dapat mengakibatkan kematian.

Itulah komplikasi Corona yang perlu Anda waspadai. Oleh karena itu, Anda sebaiknya tetap berada di rumah untuk mencegah penularan Covid-19. Untuk menjaga kesehatan, Anda sebaiknya konsumsi makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, serta minum obat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Read More