Mengenal Ataksia yang Mengganggu Gerakan Tubuh

Ada banyak kondisi yang membuat kemampuan bergerak seseorang terganggu. Salah satunya ataksia, suatu kondisi di mana kemampuan gerak tubuh terganggu akibat adanya masalah pada otak.

ataksia

Secara sederhana, gerakan tubuh orang yang mengalami ataksia menjadi tidak terkendali. Kadang, tubuh tidak dapat digerakkan sesuai yang dikehendaki. Atau sebaliknya, tubuh bergerak ketika tidak diinginkan.

Mengapa demikian? Sebab terjadi gangguan saraf pada penderita ataksia. Koordinasi, keseimbangan, bahkan cara bicara turut terdampak.

Inilah gejala ataksia

Tanda atau gejala ataksia dapat berkembang perlahan-lahan. Artinya, terjadi perburukan dari waktu ke waktu. Penyakit ini juga dapat menyerang secara tiba-tiba.

Seorang penderita ataksia akan mengalami perburukan dalam koordinasi gerak. Ketika melangkah pun menjadi tidak stabil. Sering kali terlihat seperti mau jatuh.

Aktivitas motorik halus, seperti mengancingkan baju, makan, atau menulis, juga jadi sulit dikendalikan. Penderita juga mengalami perubahan cara bicara, umumnya menjadi lebih sulit. Proses menelan juga jadi lebih sulit.

Selain itu, penderita ataksia juga dapat mengalami Nistagmus, yaitu pergerakan bola mata yang tidak disengaja. Baik bergerak ke samping atau horizontal, maupun bergerak ke atas dan bawah atau vertikal. Bahkan, kadang bola mata dapat bergerak memutar secara tidak sengaja.

Apakah penyebab ataksia?

Melihat faktor penyebabnya, ataksia tergolong ke dalam tiga jenis yaitu ataksia yang didapat, ataksia yang bersifat genetik, serta ataksia yang idiopatik.

Ataksia yang didapat merupakan gangguan pada saraf tulang belakang yang terjadi akibat adanya penyakit atau cedera. Adanya infeksi bakteri seperti meningitis misalnya, atau infeksi virus yang menyebar sampai ke otak.

Kekurangan hormon tiroid dan kekurangan vitamin B1, B12, atau vitamin E, juga dapat memicu munculnya ataksia. Begitu juga dengan kurangnya asupan oksigen ke otak, contohnya pada pasien stroke.

Tidak hanya itu, cedera akibat kecelakan, tumor otak, penyakit autoimun tertentu, kecanduan alkohol  atau NAPZA, hingga efek samping obat-obatan tertentu, dapat menjadi faktor penyebab munculnya ataksia.

Di samping ataksia yang didapat akibat penyakit atau cedera, beberapa pasien mengalami ataksia karena gen tertentu membuat sel saraf di otak dan tulang belakang terhambat. Dengan kata lain, kerusakan saraf yang terjadi disebabkan oleh faktor genetik.

Ataksia genetik ini dapat dipicu baik oleh gen dominan, maupun gen resesif. Ataksia spinocerebellar dan ataksia episodik merupakan dua jenis ataksia yang dipicu oleh gen dominan. Waktu kemunculan dua jenis ataksia tersebut berbeda, ataksia spinocerebellar umumnya muncul pada penderita dengan usia 25-80 tahun. Sedang ataksia episodik, kemunculan pertama kalinya dapat terjadi pada usia remaja. Umumnya muncul karena terkejut atau stres.

Sementara, gen resesif memicu munculnya ataksia friedreich, ataksia telangiektasia, ataksia serebral bawaan, serta penyakit wilson.

Terakhir, sesuai namanya, ataksia idiopatik merupakan jenis ataksia yang penyebabnya tidak diketahui. Jenis ataksia ini bukan disebabkan oleh cedera, penyakit, maupun faktor genetik, contohnya multiple system atrophy.

Dalam pengobatan ataksia, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengatasi penyebab dari ataksia itu sendiri. Penderita juga akan diberikan terapi agar mampu mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya dengan terapi fisik, terapi bicara, serta terapi okupasi.

Berkonsultasi dengan konselor atau bergabung dengan support group dapat dilakukan, selain berkonsultasi dengan dokter dan menjalani terapi. Dengan cara ini, penderita dapat memiliki motivasi serta memahami kondisi medis yang dialami dengan lebih baik.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>